LombokPost--Kinerja Rumah Sakit Mandalika menuai apresiasi dari Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono.
Rumah sakit yang berada di kawasan destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) itu dinilai memiliki perkembangan pesat dan layak menjadi percontohan bagi rumah sakit serupa di Indonesia.
Apresiasi tersebut disampaikan Dante saat menerima paparan Direktur RS Mandalika dr Oxy Cahyowahyuni terkait perkembangan layanan rumah sakit tersebut secara hybrid, Senin (20/4).
Dalam pemaparannya, RS Mandalika menegaskan perannya dalam mendukung berbagai kegiatan berisiko tinggi (high risk event) di kawasan KEK Mandalika sejak 2023.
Bahkan, hingga 2026, pengawalan kegiatan trackday tercatat bisa mencapai 4 hingga 5 event setiap pekan.
Selain itu, layanan Preventive Health Care (PHC) menjadi salah satu unggulan yang diminati, tidak hanya oleh pasien domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara.
Layanan ini mencakup vaksinasi hingga konsultasi pra-perjalanan.
Baca Juga: 4 Nama Muncul di Bursa Kepala BKAD Lobar, Ada Akademisi hingga Orang Dalam
Pengembangan layanan juga terus dilakukan.
Pada 2025, RS Mandalika memperkuat layanan saraf, mengoptimalkan layanan KRIS, serta memperluas jam operasional PHC dari pagi hingga sore.
Rumah sakit ini juga mengembangkan layanan paru komprehensif, termasuk melalui pembangunan gedung pelayanan TB DOT.
Tak hanya fokus pada layanan kuratif, RS Mandalika juga memperkuat layanan berbasis kebutuhan wisata.
Di antaranya pengawalan medis untuk event dan mass gathering, kerja sama dengan hotel melalui layanan hotel care, hingga pengembangan travelling medicine seperti medical check up dan vaksinasi perjalanan.
Ke depan, RS Mandalika merencanakan penambahan ruang isolasi, pembukaan poli KIA terpadu, serta peningkatan layanan bagi warga negara asing (WNA) dengan konsep lebih privat.
Dalam laporan tersebut juga terungkap adanya peningkatan kasus trauma wisata sepanjang 2025, seperti cedera akibat surfing dan kecelakaan sepeda motor.
Kondisi ini berdampak pada meningkatnya kunjungan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Menanggapi capaian tersebut, Dante memberikan apresiasi sekaligus catatan penting.
Ia menekankan perlunya investasi alat kesehatan untuk meningkatkan pendapatan rumah sakit, serta efisiensi sumber daya manusia melalui digitalisasi layanan.
“Walaupun RS Mandalika seperti bayi baru lahir, progresnya sudah bagus. Ini bisa menjadi contoh bagi DPSP lain di Indonesia,” ujar Dante.
Dengan berbagai capaian dan pengembangan yang dilakukan, RS Mandalika diharapkan mampu menjadi penopang layanan kesehatan di kawasan pariwisata sekaligus memperkuat daya saing sektor kesehatan di Nusa Tenggara Barat.
Editor : Kimda Farida