Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Populasi Anjing Liar Meledak di Pulau Lombok, Risiko Rabies Mengintai

Yuyun Kutari • Minggu, 14 Juni 2026 | 09:02 WIB
BUTUH PENANGANAN: Keberadaan anjing liar di Pulau Lombok memerlukan perhatian lebih terhadap kesehatan hewan dan kebersihan lingkungan sekitar. (IVAN/LOMBOK POST)
BUTUH PENANGANAN: Keberadaan anjing liar di Pulau Lombok memerlukan perhatian lebih terhadap kesehatan hewan dan kebersihan lingkungan sekitar. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Pemprov NTB menaruh perhatian serius terhadap lonjakan populasi anjing liar di Pulau Lombok. Kondisi ini dinilai mengancam kesehatan masyarakat dan kenyamanan lingkungan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Muhamad Riadi mengatakan persoalan anjing liar tidak bisa dianggap sepele. Dampaknya semakin luas dan membutuhkan penanganan segera.

“Ini berdampak pada kesehatan masyarakat, kenyamanan lingkungan, hingga meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis seperti rabies,” ujarnya, Jumat (12/6).

Baca Juga: Bocah Diserang Enam Anjing Liar, DPRD Desak Penanganan Serius

Menurut Riadi, posisi geografis Lombok membuat pengawasan terhadap hewan penular rabies harus diperketat. Lombok berada di antara Pulau Sumbawa dan Bali yang memiliki mobilitas manusia serta logistik cukup tinggi.

Karena itu, pengendalian kesehatan hewan dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Terutama untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit rabies.

Meski demikian, upaya pengendalian masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya minimnya tenaga penangkap anjing liar yang memiliki keterampilan khusus.

Selain itu, program sterilisasi masal juga membutuhkan biaya besar. Sementara anggaran yang tersedia masih terbatas.

Riadi mengapresiasi keterlibatan komunitas pencinta hewan yang selama ini aktif membantu penanganan anjing liar.

Baca Juga: Antisipasi Ancaman Rabies, Disnakkeswan NTB Gandeng Komunitas Atasi Lonjakan Anjing Liar

Menurutnya, komunitas tersebut berupaya mencari solusi jangka panjang tanpa mengabaikan kesejahteraan hewan. “Mereka aktif mencari solusi yang tetap memperhatikan keselamatan masyarakat dan kesejahteraan hewan,” katanya.

Disnakkeswan NTB memastikan akan mendukung berbagai program yang dilakukan komunitas. Dukungan diberikan melalui pendampingan teknis, edukasi masyarakat, hingga koordinasi kebijakan.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Disnakkeswan NTB drh Muslih mengatakan pihaknya belum memiliki data pasti terkait jumlah peningkatan populasi anjing liar di Lombok.

Namun secara biologis, perkembangan populasi anjing berlangsung sangat cepat. Seekor induk anjing dapat melahirkan dua kali dalam setahun.

Setiap kelahiran rata-rata menghasilkan lima hingga delapan anak. “Kalau rata-rata enam ekor, satu induk bisa menghasilkan sekitar 12 anak dalam setahun. Karena itu pengendaliannya cukup sulit,” jelasnya.

Baca Juga: Seorang Anak di Lotim Kembali Diserang Anjing Liar

Muslih menambahkan, tingginya populasi anjing liar juga dipengaruhi ketersediaan sumber makanan. Salah satunya berasal dari sampah yang tidak terkelola dengan baik.

“Anjing liar umumnya memperoleh makanan dari sampah. Karena itu pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dalam pengendalian populasi,” ujarnya.

Salah satu daerah yang kini menghadapi persoalan serius adalah Kabupaten Lombok Utara (KLU). Di sejumlah wilayah, jumlah anjing liar disebut telah melebihi populasi anjing berpemilik. Kondisi tersebut mulai mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat.

Asisten II Setda KLU Gatot Sugiharto mengatakan penanganan harus melibatkan semua pihak. Termasuk pemerintah, masyarakat, dan komunitas pecinta hewan.

Menurutnya, langkah penanganan tidak cukup hanya melalui penertiban. Edukasi mengenai kepemilikan hewan yang bertanggung jawab juga perlu diperkuat.

Selain itu, pemerintah akan mendorong program sterilisasi, kastrasi, dan vaksinasi massal sebagai langkah pencegahan rabies. “Pengendalian populasi dan vaksinasi harus menjadi perhatian untuk menekan risiko penyakit rabies,” tandasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
#muhamad riadi #kesehatan masyarakat #Disnakkeswan NTB #Anjing liar