LombokPost - Inovasi Dosen dan Mahasiswa UNDIKMA kembangkan Teknologi Membran Bioreaktor di Sekotong Barat untuk atasi limbah tambang.
Solusi atas masalah pencemaran air di wilayah Sekotong Barat sudah lama menjadi perhatian serius.
Aktivitas tambang emas tradisional yang menggunakan metode sederhana meninggalkan jejak limbah berbahaya, terutama merkuri dan logam berat lain.
Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini justru berubah menjadi ancaman bagi kesehatan warga dan ekosistem sekitar.
Untuk menjawab persoalan ini, melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA) memperkenalkan Teknologi Membran Bioreaktor (MBR).
Teknologi ini bekerja dengan cara menyaring limbah cair sehingga menghasilkan air bersih yang bisa digunakan kembali.
MBR dinilai sebagai solusi tepat guna karena praktis, ramah lingkungan, dan dapat diaplikasikan langsung oleh masyarakat.
Kegiatan pelatihan MBR dilaksanakan melalui program KKN-PMM, dimana mahasiswa mendapatkan pembekalan teori sekaligus praktik lapangan.
Mereka diajarkan cara merancang, mengoperasikan, hingga mendampingi masyarakat menggunakan teknologi tersebut.
Hasilnya sangat menggembirakan dimana 100 persen peserta memahami prinsip kerja MBR, dan 90 persen mampu mengolah limbah menjadi air bersih layak konsumsi.
Selain meningkatkan keterampilan mahasiswa, program ini juga membangun kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas air.
Para mahasiswa berperan ganda, bukan hanya sebagai peserta pelatihan, tetapi juga agen perubahan yang menularkan ilmu kepada warga.
“Harapan kami teknologi ini tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sekotong Barat,” ujar salah satu tim pelaksana kegiatan Dr. Citra Ayu Dewi, M.Pd.
Ke depan, program ini akan dikembangkan lebih luas dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Sehingga manfaat teknologi MBR bisa dirasakan oleh lebih banyak daerah tambang rakyat di Indonesia.
Dengan langkah sederhana namun inovatif ini, mahasiswa membuktikan bahwa perguruan tinggi bukan hanya pusat ilmu, tetapi juga motor penggerak solusi nyata untuk masalah lingkungan di masyarakat.
Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Tahun 2025.
Editor : Pujo Nugroho