LombokPost-Suasana haru biru menyelimuti Bandara Internasional Zainuddin Madjid (BIZAM) pada Sabtu (16/5) siang.
Isak tangis pihak keluarga tak terbendung saat menyaksikan sosok Esan berjalan keluar dari pintu kedatangan bandara.
Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Kabul, Lombok Tengah (Loteng) ini akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya setelah dua dasawarsa atau 20 tahun menghilang tanpa kabar.
Esan yang dijemput oleh beberapa anggota keluarga dekatnya tampak tidak kuasa menahan emosi.
Pelukan hangat dan tetesan air mata kerinduan menjadi pelepas dahaga atas penantian panjang keluarga selama puluhan tahun.
Baca Juga: Pemkab Loteng “Bersih-bersih” Indomaret dan Alfamart, Diminta Tutup Mandiri Paling Lambat 16 Mei
"Alhamdulillah sudah tiba dengan selamat di Lombok," ucap Joni Sutangga selaku paman Esan pada Lombok Post, Sabtu (16/5).
Setibanya di rumah, dari video yang diterima Lombok Post, di Desa Kabul, tangis haru kembali pecah.
Keluarga besar, tetangga, dan kerabat dekat sudah berkumpul menanti kedatangannya.
Mereka seolah masih tidak percaya bahwa Esan yang selama ini disangka telah tiada, kini berdiri tegak di hadapan mereka.
Kepulangan Esan yang bagaikan mukjizat ini tidak lepas dari peran aktif Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) yang memfasilitasi dan mengawal proses pemulangan hingga ia bisa tiba dengan selamat di Pulau Lombok.
Baca Juga: 25 Ritel Modern di Lombok Tengah Tutup Massal, Bagaimana Nasib 151 Karyawannya?
Kisah hilangnya Esan bermula dua puluh tahun lalu. Saat itu, ia berniat untuk pulang ke Tanah Air.
Namun nahas, kapal yang ditumpangi Esan karam dan tenggelam.
Sejak peristiwa tragis tersebut, Esan hilang kontak sama sekali.
Pihak keluarga yang kehilangan jejak sempat menduga kuat bahwa Esan telah meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Namun, takdir berkata lain. Misteri keberadaan Esan selama dua dekade akhirnya terjawab melalui sebuah sambungan panggilan video yang sama sekali tidak disangka-sangka beberapa waktu lalu.
Meskipun waktu telah mengikis banyak ingatan, Esan rupanya masih mengingat satu nama jagat maya.
Ia mencoba menelusuri media sosial Facebook dan berhasil menghubungi pamannya, Jhoni Sutangga—satu-satunya nama anggota keluarga yang masih melekat kuat di memorinya.
Baca Juga: Gerbong Mutasi Polres Loteng Bergerak, Sejumlah Kasat dan Kapolsek Resmi Berganti
Dari komunikasi digital itulah, tabir keberadaan Esan terkuak hingga akhirnya ia bisa dipulangkan dan berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.
Editor : Kimda Farida