Lombokpost- Relawan Cerdas NTB menanam ratusan mangrove di Pantai Saung sebagai benteng alam sekaligus penggerak ekonomi wisata. Gerakan mahasiswa dari 16 kampus ini juga fokus menyemai kesadaran pendidikan bagi anak-anak di pelosok.
Ratusan bibit mangrove berjejer rapi di bibir Pantai Saung, Desa Wakan, Kecamatan Jerowaru, pagi itu. Bibit-bibit hijau tersebut baru saja ditanam sekelompok pemuda bersama masyarakat setempat.
Aksi penanaman ini diinisiasi Komunitas Relawan Cerdas NTB. Sebuah wadah yang menghimpun mahasiswa dari berbagai kampus di NTB. Bagi para relawan ini, mangrove bukan sekadar pohon biasa, melainkan benteng pertahanan utama untuk melindungi bibir pantai dari amukan gelombang yang memicu abrasi.
Ketua Umum Relawan Cerdas NTB M Jumandarsyah menyampaikan, penanaman ratusan bibit mangrove ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat. Tujuannya jelas, yakni menjaga kawasan pantai dari ancaman abrasi maupun banjir rob.
"Melalui kegiatan ini, kita juga ingin menjaga dan merawat tanaman mangrove yang sudah ada. Karena di pantai Desa Wakan sudah ada pohon mangrove yang tumbuh, namun tidak dikelola dengan baik," terang Jumandarsyah, Minggu (11/1).
Sebelum bibit ditanam, masyarakat terlebih dahulu diberikan edukasi mengenai manfaat mangrove serta cara perawatannya. Pengetahuan ini dinilai penting agar warga lokal memiliki rasa memiliki untuk menjaga ekosistem tersebut.
"Ada materi yang diberikan sebelum penanaman, supaya masyarakat tahu cara merawat dan menjaga mangrove yang kita tanam," jelasnya.
Keberadaan hutan mangrove ini tidak hanya diproyeksikan sebagai pelindung pantai. Ke depan, kawasan ini diharapkan mampu berkembang menjadi destinasi wisata baru, serupa dengan wisata mangrove Poton Bako di Desa Jerowaru yang telah terbukti mampu menggerakkan ekonomi warga.
Apalagi, Pantai Saung sudah dikenal dengan potensi kekayaan karang dan rumput lautnya. Saban hari, banyak warga dari luar daerah datang untuk berburu kerang dan rumput laut. Potensi alam yang melimpah ini menjadi daya tarik kuat jika dikembangkan menjadi destinasi wisata bahari yang terintegrasi.
"Pantai Saung ini sangat bagus sekali untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata mangrove. Apalagi sekarang banyak masyarakat luar yang datang berburu kerang," katanya.
Selain isu lingkungan, Komunitas Relawan Cerdas NTB juga bergerak di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, hingga pariwisata. Namun, sektor pendidikan di daerah pinggiran menjadi perhatian utama mereka saat ini.
Relawan Cerdas NTB lahir dari semangat kepedulian terhadap pendidikan di pelosok Bumi Gora. Sejak berdiri pada tahun 2021, komunitas ini telah beranggotakan lebih dari 100 mahasiswa yang berasal dari 16 kampus di NTB, termasuk Unram, UIN Mataram, dan Universitas Muhammadiyah Mataram.
Hingga kini, puluhan desa terpencil telah mereka sambangi untuk menyebarkan nilai-nilai pentingnya pendidikan. Harapannya, dari pelosok negeri inilah kelak lahir sebuah peradaban baru yang lebih maju.
"Kita punya tagline mencerdaskan negeri membangun peradaban. Kita ingin anak-anak di pelosok NTB memilik semangat dan tekad yang kuat untuk terus melanjutkan pendidikan," tutupnya. (*/r7)
Editor : Prihadi Zoldic