Lombokpost-Di tangan orang-orang kreatif, barang bekas bisa diolah menjadi bermanfaat. Seperti oli bekas, bisa menjadi bahan bakar pengganti gas elpiji. Kreativitas ini ditunjukkan pemuda dari Kelurahan Majidi, Lombok Timur, dengan membuat kompor berbahan oli bekas.
Sebuah tungku besi dari barang bekas tampak unik diletakkan di teras rumah. Bentuknya berbeda dari kompor pada umumnya. Desainnya sederhana, tanpa selang aliran gas elpiji. Di bagian depan terpasang mesin blower mini yang dicolok menggunakan cas handphone untuk membantu meniup api.
Di bagian atas, saluran pipa besi kecil penghubung blower terlihat menyatu dengan pipa besi berukuran sama yang diberi lubang kecil sebagai jalur memasukkan bahan bakar. Kompor itu dibuat dari besi bekas dengan bahan bakar oli bekas, hasil kreativitas pemuda Kelurahan Majidi, Kecamatan Selong.
Ketua Pemuda Batur Bajang Majidi Haerul Anwar mengatakan, pembuatan kompor ini bermula dari kesulitan mendapatkan gas elpiji. Saat itu, gas elpiji di Kecamatan Selong cukup langka dan mahal sehingga mereka berinisiatif membuat kompor dari bahan bekas.
"Setiap kita kumpul kita butuh kopi, kemudian masak ubi, goreng kerupuk, dan saat itu gas elpiji langka, mau pakai kayu, kayu juga basah," beber Haerul, Selasa (17/2).
Karena sulit mendapatkan gas dan kebetulan di sekretariat tersedia oli, mereka kemudian berinisiatif membuat kompor dengan memanfaatkan oli bekas sebagai bahan bakar.
Salah seorang pemuda yang berprofesi sebagai tukang las kemudian mencoba merakit kompor. Haerul mengakui proses pembuatannya cukup panjang karena dilakukan secara otodidak.
"Sebelumnya, bentuknya tidak pakai blower, tapi kita pakai kipas angin sebagai pembantu untuk meniup apinya. Tapi setelah beberapa kali perbaikan, akhirnya pakai blower," ujarnya.
Setelah melalui uji coba dan perbaikan, kompor berbahan oli bekas itu akhirnya dapat digunakan untuk memasak. Kompor tersebut bahkan telah mengikuti lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Lotim dan akan mewakili Lotim di tingkat provinsi.
Kompor itu direncanakan terus dikembangkan dan dipasarkan ke masyarakat setelah benar-benar sempurna. Saat ini, kompor masih membutuhkan beberapa perbaikan, seperti pembuatan stopkontak untuk mematikan api karena masih menggunakan besi. Termasuk pengaturan agar api bisa berwarna biru seperti kompor gas elpiji.
"Harus sesi uji coba dulu, biar apinya itu benar biru kayak kompor gas. Karena ini masih merah. Kalau sudah jadi kita akan kembangkan dan pasarkan sebagai pemasukan pemuda," jelasnya.
Meski menggunakan bahan bakar oli bekas, Haerul memastikan tidak berpengaruh terhadap aroma dan rasa makanan. Penggunaan kompor ini juga dinilai lebih hemat dan aman dari potensi kebakaran.
Setengah gelas oli bekas dapat bertahan hingga lebih dari 30 menit. Jika api mulai mengecil, oli tinggal ditambahkan melalui lubang yang telah disiapkan. "Selain oli bisa juga menggunakan minyak goreng bekas," katanya.
Kemunculan kompor ini mendapat respons positif dari masyarakat. Bahkan, sudah banyak warga yang memesan karena dinilai lebih murah dan aman dari potensi kebakaran. (*/r7)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin