Akan tetapi di satu sisi terdeteksi ada ancaman baru di zona inti konservasi tersebut.
Yaitu ditemukan adanya invasi alga jenis Halimeda yang tumbuh di atas terumbu karang.
Penata Perizinan Ahli Muda BKKPN Kupang Hotmariyah mengungkapkan, bahwa zona inti seharusnya menjadi indikator keberhasilan pengelolaan konservasi.
Namun peningkatan tutupan alga Halimeda dianggap sebagai sinyal gangguan yang harus segera ditangani.
Baca Juga: Satgas DBHCHT Sita 287 Bungkus Rokok Ilegal di Gili Trawangan dan Gili Air
“Di zona inti kondisi terumbu karang sebenarnya stabil bahkan meningkat. Tapi kami temukan invasi alga Halimeda sejak 2023," jelasnya kepada Lombok Post.
Kondisi ini harus ditangani segera. Sebab, dikhawatirkan akan menginvasi seluruh terumbu karang hingga menyebabkan kematian massal.
"Pertumbuhannya lebih cepat dari karang, sehingga perlu ada mitigasi segera," imbuh Hotmariyah.
Sebagai upaya mitigasi dan penanganan lebih lanjut, pihaknya telah berkoordinasi dengan akademisi dari Universitas Mataram serta stakeholder terkait.
Dari sinilah nanti akan dilakukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut.
Akan tetapi secara umum, kondisi terumbu karang di Gili Matra masih cukup baik.
Berdasarkan hasil survei tim akademisi Unram bersama BKKPN Kupang menunjukkan, rata-rata tutupan karang keras hidup tahun 2025 mencapai 40,71 persen atau kategori cukup baik.
Secara time-series, terumbu karang Gili Matra terus mengalami pemulihan.
Pada 2022 tutupan karang masih berada di angka 29,06 persen, dan terus naik hingga 40,71 persen tahun ini.
Di sisi lain, kondisi padang lamun di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan justru mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir.
Hasil monitoring 2025 pada 11 stasiun pengamatan menampilkan penurunan tutupan lamun dari tahun ke tahun, dengan beberapa lokasi kini masuk kategori “jarang”.
Ada enam jenis lamun yang mendominasi kawasan tersebut.
Yaitu Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, Thalassia hemprichii, dan Syringodium isoetifolium.
PELP Ahli Muda BKKPN Kupang Martanina menjelaskan, penurunan tutupan lamun dikhawatirkan memengaruhi fungsi ekologis kawasan.
Sebab, lamun merupakan habitat penting bagi berbagai biota laut serta berperan menjaga stabilitas lingkungan pesisir.
Dia mengatakan, penyebab penurunan tersebut masih membutuhkan kajian mendalam.
Apakah akibat aktivitas wisata, masyarakat, atau faktor alam seperti sedimentasi. "Ini masih perlu diteliti lebih lanjut,” jelasnya.
Sebagai upaya penelitian lebih lanjut itu, saat ini BKKPN Kupang menggelar Diseminasi dan Publikasi Hasil Monitoring Ekosistem.
Forum ini juga dimanfaatkan untuk membuka ruang masukan dari akademisi, NGO, dan seluruh stakeholder konservasi.
“Kami ingin mendapat masukan agar ekosistem terumbu karang dan seluruh target konservasi di Gili Matra dapat semakin stabil dan lebih baik ke depan,” kata Martanina.
Editor : Marthadi