Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Demi KF-21 Boramae, Korea Selatan dan Inggris Bersatu Menghadapi Veto Amerika, Peran Indonesia Tak Jelas?

Prihadi Zoldic • Jumat, 27 Juni 2025 | 14:17 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

 

LombokPost - Dalam langkah dramatis yang dapat mengubah arah industri pertahanan global, Inggris baru-baru ini meluncurkan upaya lobi tingkat tinggi untuk membantu Korea Selatan mengatasi hambatan signifikan dalam ekspor jet tempur KF-21 Boramae mereka.

Inti dari masalah ini adalah pembatasan ketat yang diberlakukan oleh AS terkait dengan mesin GE F414 yang digunakan dalam KF-21, proyek bersama Korea Selatan dan Indonesia.

Pembatas telah membatasi kemampuan Korea Selatan untuk menjual pesawat tempur ini kepada pelanggan internasional potensial seperti Uni Emirat Arab.

KF-21 Boramae adalah salah satu proyek pertahanan paling ambisius Korea Selatan, dirancang untuk memenuhi kebutuhan udara modern negara tersebut sekaligus menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan.

Namun, ketergantungan pada mesin GE F414, yang diatur ketat oleh peraturan ekspor Amerika, telah menjadi batu sandungan besar.

Pembatasan ini tidak hanya membatasi kemampuan Korea Selatan untuk menjual KF-21 secara global tetapi juga mengurangi fleksibilitas diplomatik Seoul dalam membangun kemitraan pertahanan yang lebih luas.

Dalam upaya untuk memecahkan kebuntuan ini, Inggris telah mengajukan proposal menarik yang melibatkan pengembangan bersama mesin baru dengan Rolls-Royce.

Dikutip dari berbagai sumber, proposal ini bukan hanya tentang mengganti mesin yang ada, tetapi tentang menciptakan kemitraan strategis yang dapat memberdayakan Korea Selatan dengan teknologi canggih dan mengurangi ketergantungannya pada komponen Amerika.

Dengan mesin baru ini, Korea Selatan dapat meningkatkan kemampuan ekspor KF-21-nya tanpa terikat oleh pembatasan Amerika.

Sehingga bisa membuka pintu ekspor KF-21 ke pasar baru di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Sementara proposal Inggris menawarkan jalan baru, General Electric (GE), produsen mesin F414, tetap berkomitmen untuk mendukung Korea Selatan.

GE telah menegaskan keinginannya untuk melanjutkan keterlibatan dalam proyek KF-21, meski pun dengan batasan pada transfer teknologi karena alasan keamanan nasional Amerika.

Ini menempatkan Korea Selatan pada persimpangan penting: apakah akan memilih keandalan teknologi yang sudah terbukti dari GE atau mengambil risiko yang diperhitungkan dengan proposal Inggris untuk mendapatkan kedaulatan teknologi yang lebih besar.

Keputusan yang diambil Korea Selatan tidak hanya akan menentukan masa depan KF-21 tetapi juga memiliki implikasi luas bagi posisi negara tersebut dalam rantai nilai global industri pertahanan.

Dengan memilih proposal Inggris, Korea Selatan dapat memperkuat posisinya sebagai pemain independen dalam industri pertahanan, meningkatkan kemampuan diplomatisnya, dan membuka peluang baru untuk kerja sama internasional.

Di sisi lain, tetap dengan GE dapat memastikan keandalan teknologi tetapi dengan konsekuensi kehilangan sebagian kontrol atas program KF-21.

Dalam dunia pertahanan yang terus berkembang, keputusan Korea Selatan akan menjadi contoh penting bagaimana negara-negara dapat menavigasi kompleksitas geopolitik untuk mencapai tujuan strategis mereka.

Apakah Korea Selatan akan memilih untuk mengambil jalan baru dengan Inggris, atau tetap dengan kemitraan yang sudah terjalin dengan Amerika?

Satu hal yang pasti: masa depan KF-21 dan industri pertahanan Korea Selatan akan ditentukan oleh pilihan-pilihan berani yang diambil saat ini.

KF-21, pesawat tempur yang dikembangkan bersama antara Korea Selatan dan Indonesia.
KF-21, pesawat tempur yang dikembangkan bersama antara Korea Selatan dan Indonesia.

Dengan demikian, saga KF-21 tidak hanya tentang sebuah jet tempur, tetapi tentang ambisi sebuah bangsa untuk menjadi pemain utama dalam panggung pertahanan global.

Apakah Korea Selatan akan mengambil langkah berani menuju kemandirian teknologi, ataukah keandalan teknologi AS akan tetap menjadi pilihan utama? Hanya waktu yang akan menjawab.

Masalahnya, tak dijelaskan peran Indonesia dalam diskusi Korea Selatan dan Inggris tersebut terkait KF-21. 

KF-21 jet tempur yang dikembangkan oleh Korea Selatan dan Indonesia.
KF-21 jet tempur yang dikembangkan oleh Korea Selatan dan Indonesia.

Padalah Indonesia juga merupakan Mitra Korea Selatan dalam pengembangan KF-21 itu. 

Editor : Prihadi Zoldic
#Indonesia #jet tempur #kf-21 #amerika #inggris #Korea Selatan