LombokPost - Kekhawatiran akan bencana banjir besar di Kota Mataram memuncak menyusul peningkatan drastis tinggi muka air (TMA) Sungai Ancar yang hampir menyentuh batas kritis 95 cm.
Kondisi ini membuat Pemerintah Kota Mataram kini secara serius mengkaji eskalasi status kebencanaan dari Siaga menjadi Darurat Banjir.
Plt Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzaki, mengungkapkan bahwa kekhawatiran ini langsung direspons dengan kesiapsiagaan penuh.
"Ketinggian air itu kan hampir menyentuh angka 95 di daerah Ancar. Kekhawatiran beliau [Bapak Wali Kota], kami diminta stand by," kata Muzaki, Kamis (13/11).
Genangan Parah di Tiga Kelurahan, Warga Belum Mengungsi
Luapan Sungai Ancar baru-baru ini telah memicu genangan yang melanda sejumlah titik, dengan dampak terparah terjadi di Kelurahan Abiantubuh dan Kekalik, serta Bintaro.
Total sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) lebih di tiga kelurahan tersebut dilaporkan terendam banjir.
Meskipun genangan terjadi cukup parah, Muzaki memastikan bahwa belum ada warga yang mengungsi. Namun, respons BPBD Mataram sudah bergerak cepat.
"Tadi malam kita langsung bangun posko pertama dulu. Sambil kita menyelesaikan administrasi untuk penetapan status," jelasnya, menganalogikan kewaspadaan BPBD.
"Kalau kemarin kita duduk, sekarang kita mulai berdiri nih. Siap-siap lari," tambahnya
Mencari Akar Masalah: Pendangkalan Hingga Tanggul Rusak
BPBD Mataram menyadari bahwa masalah banjir ini dipicu oleh faktor hidrometeorologi, di mana Mataram sebagai daerah hilir sangat rentan terhadap hujan deras di wilayah hulu (Lombok Barat).
Sebelum menetapkan status Darurat, BPBD akan segera berkoordinasi dengan dinas teknis seperti PU dan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mengkaji penyebab utama luapan air.
"Apakah karena pendangkalan? Apakah karena penyempitan? Atau mungkin kerusakan tanggul. Ini juga kan harus dihitung. Sehingga kita nanti begitu menetapkan status, sudah ada yang mau diintervensi," tandas Muzaki.
Penetapan status Darurat Banjir akan memungkinkan Pemkot Mataram untuk segera mengambil tindakan intervensi teknis yang cepat dan terukur, serta meningkatkan kesiapsiagaan personel dan peralatan di jam-jam rawan bencana.(chi/r9)
Editor : Kimda Farida