KPM kelompok ini berhak menerima akumulasi hingga 4 jenis Bansos sekaligus, dengan total nilai mencapai lebih dari Rp1,3 juta.
KPM yang baru menerima KKS Merah Putih hasil peralihan ini siap menerima dana besar yang tertunda penyalurannya.
Empat bansos yang berpotensi cair serentak adalah PKH (Program Keluarga Harapan), BPNT/Sembako, Bansos Penebalan Rp 400.000, dan BLT Kesra Rp 900.000
Secara umum, status pencairan Bansos besar seperti PKH dan BPNT rata-rata sudah berada pada tahap Standing Instruction (SI), yang berarti dana segera masuk ke rekening KKS dalam waktu 1 hingga 7 hari kerja.
Sementara itu, untuk penerima non-KKS, PT Pos Indonesia tetap menyalurkan BLT Kesra Rp 900.000 serta Bantuan Beras 20 kg dan Minyak Goreng 4 liter.
Penerima diwajibkan membawa undangan dan mengambil sesuai jadwal karena bantuan bisa hangus.
Sementara itu, pemerintah kembali mengintensifkan penyaluran dan pembaruan data Bansos di awal Desember 2025.
Periode 1–10 Desember ditetapkan sebagai fase krusial bagi masyarakat yang ingin mengajukan diri, terhapus dari data (excluded), atau merasa desilnya tidak sesuai kondisi ekonomi sebenarnya.
Masyarakat yang merasa layak namun belum terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) diimbau memanfaatkan momentum 1–10 Desember untuk mengajukan diri melalui Aplikasi Cek Bansos Kemensos atau Operator Desa/Kelurahan.
Data yang masuk pada periode ini diprioritaskan untuk proses verifikasi dan validasi bulan berikutnya.
Kemensos juga merespons keluhan ribuan KPM yang tiba-tiba naik ke desil 6–10 sehingga bantuan dihentikan. Kenaikan desil ini sering dipicu oleh ketidaktepatan sinkronisasi NIK atau kesalahan penilaian sistem.
Masyarakat yang merasa tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sesungguhnya dapat mengajukan request pembaruan data dan penurunan desil melalui aplikasi Cek Bansos, yang akan diikuti dengan survei lapangan (ground checking).
Sementara terkait BLT Kesra Rp 900.000, meskipun program ini bersifat responsif dan tidak reguler seperti PKH/BPNT, peluang perpanjangan hingga 2026 dinilai sangat terbuka.
Peluang ini didukung oleh tiga indikator utama: potensi tekanan ekonomi kuartal akhir 2025, kesuksesan program responsif serupa di tahun-tahun sebelumnya, serta efektivitas BLT Kesra dalam menjaga daya beli masyarakat.
Meski belum ada peresmian, pemerintah terus memantau kebutuhan intervensi cepat ini.
Editor : Siti Aeny Maryam